Rabu, 09 Desember 2009

SBY, KORUPSI, DAN REFORMASI INDONESIA

Saya tidak tahu kunci sukses, tetapi kunci kegagalan adalah mencoba menyenangkan setiap orang. (Bill Cosby)

amat menarik gonjang-ganjing beberapa bulan terakhir ini terkait cicak vs buaya, kpk, pilpres 2009, kabinet indonesia bersatu jilid II, gerakan facebookers dukung bibit-chandra, susno duadji, ito sumardi, hingga bank century. sebuah perjalanan melelahkan yang membuat sby bete karena menenggelamkan publikasi peristiwa ekonomi (mambangkak an paruik) indonesia summit beberapa waktu lalu berselang terpilihnya kabinet baru sby. dan kini saat century gate mulai di-pansus-kan oleh dpr senayan, pak amien rais yang dalam peristiwa ditahannya bibit s riyanto dan chandra m hamzah terdengar anteng2 aza, kini mulai bicara. ya amien adalah salah satu tokoh terpenting dalam arah lokomotif indonesia era reformasi. paska pemahzulan kebudayaan kolusi, korupsi, dan nepotisme ala zaman orde baru.

cilakanya jika pada orla orang korupsi di bawah meja, masa orba di atas meja, sekarang sekalian meja2nya kabarnya ikut dikorupsi (dasar urusan paruik dan tantu untuak manggaya). singkatnya diduga kebudayaan korupsi birokrat-masyarakat kita kian menjadi2 kian ke hari kini. salah satu pola menarik yang muncul dalam analisis2 sosial adalah munculnya "lahan2" korup baru di daerah seiring program desentralisasi dan adanya manajemen modern yang lebih "galak" di pusat. terakhir kudengar dari salah satu capres indie 2009 lalu, bung fadjroel rachman, indonesia sekarang ini dalam urusan bersih dari korupsi masih di posisi 111 dari sekitar 100-an negara yang tegak di muka bumi rahmat lil alamin ini.

di pusat (jakarta ya njawa) seiring tumbuhnya generasi baru dan manajemen baru sebagaimana sedikit kusinggung tadi telah mulai ada upaya yang cukup ekstrim dalam memerangi koruptor ini. akibatnya bisa kita lihat dalam perlawanan balik pada kasus cicak-buaya. dan ada yang menarik dalam hal ini terkait sby. presiden kita yang baru kemaren dipilih langsung oleh lebih separo jumlah keseluruhan rakyat ri ini terlihat "tergoyang" dengan masalah ini. apalagi jika betul dana century mengalir (langsung atau tak langsung) ke kantong partai demokrat. dan sby kini terlihat mulai ber-konfrontasi dengan barisan ormas2 reformasi seperti yang bisa kita lihat puncaknya pada demo atau pawai hari anti korupsi sedunia di berbagai titik ruang publik di jalanan ibukota djakarta sebagaimana direncanakan hari ini (9-12-09). ada apa dengan sby, korupsi, dan program reformasi negara kita?

dari berbagai polemik dan debat yang muncul di televisi dan berbagai media lain dengan segala kerumitan pemahamannya saya ingin dalam tulisan ini menyederhanakan apa yang sebenarnya terjadi. karena masyarakat barangkali bingung karena sby pun dicap orang bersih yang ora neko2 mengganyang koruptor. bahkan beliau membiarkan terpenjaranya bapak kandung isteri dari anak tertuanya yang salah kebijakan dalam memimpin bank indonesia tanpa menerima duit korup sepeserpun (hanya menguntungkan orang lain, temennya kali hehe). juga bahkan sebagian eksponen reformasi indonesia semisal tokoh2 dari freedom institute dikenal sangat mendukung dan teramat dekat pada ketiak sby. kita juga melihat bagaimana baru seminggu terakhir belakangan ini bapak reformasi indonesia mantan ketua mpr h. amien rais mulai agak cuap2 di televisi. dan sby sepertinya mulai dipertanyakan sebagian teman2nya.

tapi sederhananya dari segala paradoks, kontradiksi, dan komplikasi peristiwa kali ini adalah berikut. ini yang perlu dilihat oleh kita dan terserah mau berpihak kemana. bagi sby sebagai seorang yang serba hati2 dan sangat tenggang rasa, upaya pemberantasan korupsi sebaiknya tidak usah mengungkit yang lalu2 dan jangan terlalu "brutal" alias memang ada baiknya tebang pilih dikit (ukuran sedikit ini sebetulnya juga bisa ndak jelas yaw). dan bagi banyak pihak pejuang (atau yang mengaku2 pejuang atau yang ikut2an doang) reformasi, setidaknya dalam tataran retorika, pemberantasan koruptor ini tidak boleh sama sekali pandang bulu dan harus memegang teguh prinsip persamaan di depan hukum. ini terdengar utopis, tapi bukankah hal2 yang seperti ini yang menjadi jalannya seorang pejuang sedjati. terserah hasilnya nanti seberapa pencapaian. sementara bagi sby yang merangkul semua pihak, menjadi pemimpin segenap rakyat yang berkebudayaan koruptor, matre, menyadari pentingnya status dan yang terlihat di mata orang ini, tenggang rasa, banyak teman nol lawan, enggak enakan, hati2, pragmatis, situasionil, menyesuaikan dengan arah angin, tapi juga setidaknya beliau berupaya menghindari konflik terbuka dari massa pro-koruptor: realistis aja deh.

sby tentu saja terlihat menyadari dan menyetujui bahwa kehidupan negara dan masyarakat adalah lebih baik tanpa kebudayaan korup. namun sebagai manusia pragmatis beliau juga tak ingin menyalah2kan koruptor karena itu akan hanya menghasilkan musuh yang jika ingin sukses duniawi sebaiknya dihindari. utamanya lagi jika koruptor tersebut adalah orang "besar" dengan pendukung dan massa yang banyak dan akan mengakibatin instabilitas politik-sosial. pada akhirnya hukum memang harus pandang bulunya siapa. tentu kita bisa saja menuntut sby untuk mampu sesulit apapun mengupayakan pemberantasan koruptor dan kawan2nya sembari menjaga stabilitas sosial-politik. bahkan bukankah katanya hukum harus tegak meskipun langit runtuh, bull shit! sepertinya akhir2 ini sby semakin penenggang rasa dan berusaha menjauhi masalah agar tidak terhambat tujuan karir internasionalnya. ah sudahlah, ini semua toh hanya proses dialektis yang tetap akan berdinamika hingga akhir jaman; saat kejahatan menang dan mejadi tuhan rakyat indonesia yang makmur sentosa. jadi apa tujuan akhir kita?

Senin, 07 Desember 2009

PERJALANAN MENCARI DUNIA YANG HILANG

Sekilas tidak ada yang salah dengan hidup Oei Hui Lan. Ia memiliki impian hampir semua gadis: cantik, terpelajar, dan menikahi seorang politikus cerdas. Selain itu, Hui Lan adalah putri Oei Tiong Ham, pria terkaya di Asia Tenggara. Ayahnya bahkan disebut-sebut sebagai raja gula asal Semarang.
Ayahnya sangat ambisius dan selalu menekankan putrinya agar menjadi nomor satu. Sedangkan, sang ibu pun berkehendak agar Hui Lan memiliki kedekatan dengan keluarga bangsawan di Eropa dan Amerika.

Kehidupan Hui Lan terlihat sempurna dan bertaburan kemewahan. Berlian, permata dan emas adalah sahabat akrabnya sejak kecil. Ia adalah wanita yang kedudukannya sejajar dengan para petinggi Eropa dan Amerika. Beberapa kali pun ia menerima undangan orang-orang penting, seperti Ratu Elizabeth dan Presiden Kennedy.

Lalu apa yang salah dengan dirinya? Seolah tak puas, Hui Lan tak mengerti bagaimana mencari dunianya yang hilang. Ia kerap berlibur ke negara mana pun yang ia suka, menjelajahi pesta-pesta elit dan belanja setiap hari. Namun, pencariannya akan kebahagiaan pun tak kunjung berakhir.

Hui Lan terbentur dengan posisinya sebagai seorang wanita yang terkukung dengan adat kolot dan standart hidup tinggi yang ditetapkan keluarganya. Selain itu, Hui Lan tertekan karena pernikahan orang tuanya jauh dari harmonis. Sang ayah memiliki banyak gundik, namun baik ayah dan ibu tak ingin bercerai karena itu adalah aib. Sejak itu tertanam dalam diri Hui Lan bahwa bahwa pernikahan dan cinta adalah kedua hal yang bertolak belakang.

Konflik demi konflik terjadi. Hal itu memuncak ketika sang ayah meninggal dan menyisakan sengketa warisan di antara keluarga besarnya. Demikian kisah tragisnya diulas dalam novel biografi Oei Hui Lan; Putri orang terkaya di Indonesia.

Novel yang ditulis Agnes Danovar ini mengangkat Hui Lan sebagai sosok utama. Sebagai seorang wanita kaya, ia berkarakter angkuh, bergantung pada ayahnya dan kadang suka bertindak semaunya. Pembentukan karakter itu disebabkan didikan orangtuanya yang selalu memberikan pelayanan secara berlebihan padanya.

Sejak kecil, Hui Lan tinggal di rumah bergaya klasik eropa campur china yang memiliki 200 kamar dengan luas tanah 9,2 hektar. Ia memiliki 40 pembantu dan 50 tukang kebun. Setiap anggota keluarga mempunyai koki pribadi. Inilah yang membuat Hui Lan merasa bisa membeli apapun. Meskipun demikian, Hui Lan adalah wanita yang cerdas, kritis, berkelas, perasa dan berkeinginan keras.

Kehidupan pun memberikannya sebuah pelajaran. Hari demi hari, ia berusaha keras menemukan pencarian dirinya. Ia ingin menikmati hidupnya yang baru dan melupakan pertikaian antaranggota keluarga. Nah, perjalanan apakah yang membuatnya berpikir bahwa kekayaan tidak bisa menukar kebahagiaannya? Simaklah dalam novel terbitan Inti Book yang diulas berdasarkan kisah nyata.

Novel ini ditulis dengan latar belakangan kehidupan era sebelum kemerdekaan Indonesia berkisar tahun 1880-an. Cerita dalam novel ini membawa Anda untuk berada kembali di masa lampau. Apalagi kisah ini berada di tengah-tengah masa konflik China dan Indonesia.

Selain itu, penulis sangat piawai menggambarkan detil kehidupan wanita kaya ini dengan gaya bahasa bertutur dengan memposisikan dirinya sebagai Hui Lan. Dengan begitu, Anda serasa membaca sebuah diari yang ditulis Hui Lan sendiri. Kisah ini diulas penuh emosional dan inspiratif.

Perjalanan Hui Lan bagaikan drama kepedihan hidup. Konflik yang terjadi, tak ubahnya kisah Marie Aintoinette, permaisuri perancis yang bergelar bunga mawar dari Versailles. Kisah Hui Lan membuka mata hati kita tentang kemewahan duniawi hanyalah bersifat semu dan menipu.

Ok, tulisan ini kukutip dari sebuah situs yang gw lupa dimana nyimpen linknya. Niy adalah resensy dari sbuah novel getho, oks. Oya, skalian ini link titipan agitagat bernama best student loans. Sebuah situs tentang perbankan ukm kayaknya, yoi.